“The Legend” Koes Plus Yon Koeswoyo Meninggal Dunia

Musisi senior Indonesia, Yon Koeswoyo, meninggal dunia pada Jumat 5 Januari 2018 sekitar pukul 05.50 WIB. Yon Koeswoyo (77 tahun) merupakan anggota dari grup band legendaris Koes Bersaudara, Koes Plus.

Kabar duka diketahui dari akun Facebook pengamat musik Bens Leo, “Inalillahi wainalillahi rojiun. Telah wafat dgn tenang Adik, Kakak, Ayah, Eyang tercinta Yon Koeswoyo ( Koes Bersaudara / Koes Plus ), pagi ini Jumat 5 Jan 2018. Rumah duka Jl. Salak Pamulang. Berdoa semoga dilapangkan jalannya pulang ke Rumah Tuhan di Surga, dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan untuk mengiklaskan kepulangannya Mas Yon ke Surga Tuhan.

Kabar duka itu juga diungkapkan oleh Nomo Koeswoyo dari Magelang seperti diunggah juga oleh Rian D’Masiv dalam postingan terbaru di akun Instagramnya.

Yon Koeswoyo lahir di Tuban, Jawa Timur pada 27 September 1940. Dia adalah anak keenam dari sembilan bersaudara.

Pada 9 Desember 2016, band legendaris Indonesia Koes Plus menggelar konser “Andaikan Koes Plus Datang Kembali” di Balai Sarbini, Jakarta Pusat.

Dalam konferensi pers, Yon sempat memberikan wejangan pada band baru agar bisa melegenda seperti Koes Plus yang bisa bertahan lama.

Legenda yang begitu ngehits di tahun 70an ini sampai saat ini belum bisa tergantikan.

Apalagi jika melihat sejarah hidupnya yang berjuang ditengah keterbatasan, hingga meledak dan kepopuleran Koes Plus tak terbendung.

Sampai saat ini, siapa tak kenal dengan lagu-lagunya. Sebut saja, Andai Kau Datang, Buat Apa Susah hingga Bujangan.

Yon adalah satu-satunya adik Tony Koeswoyo yang begitu setia.

Sejak berdirinya Koes Bersaudara, dialah yang selalu mendampingi Tony. Bahkan ketika dua kakanya Nomo dan Yok ikut keluar saat ada anggota baru Adji dan Tomo, Yon tetap bertahan dan berjuang.

Dia pernah dipenjara di era Presiden Soerkarno.

Grup ini meraih kesuksesan dalam beberapa album rekaman berikutnya selama beberapa tahun sebelum dipenjarakan oleh rezim Orde Lama Soekarno di Penjara Glodok pada tanggal 29 Juni 1965.

Yon dimasukkan satu sel bersama saudara-saudaranya, Tony, Nomo, dan Yok. Mereka dianggap memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok (kebarat-baratan) yang terlarang masa itu karena dianggap musik yang tidak mencerminkan bangsa Indonesia pada tahun 1965.

Namun Sebenarnya Pemenjaraan ini bertujuan untuk persiapan Bela Tanah Air saat terjadinya perselisihan dengan malaysia, saat presiden Soekarno menyatakan ganyang malaysia lewat seni permusikan. Pada Awalnya untuk dikirim ke Singapura, Kalimantan Utara, Bahkan Malaysia.

Tapi sebelum sempat dikirim untuk bela negara lewat permusikan, pemerintahan Soekarno telah lengser.

Mereka akhirnya dibebaskan pada tanggal 29 September 1965 (tepat sehari sebelum pecahnya Gerakan 30 September PKI) dan tidak jadi dikirim ke Singapura, Kalimantan Utara, dan Malaysia.

Selepas itu karier bermusik mereka kembali berjalan.

Nama Koes Plus mulai dielu-elukan khalayak setelah tampil membawakan lagu “Derita” serta “Manis Dan Sayang”, “Senja”, “Cintamu Telah Berlalu” dalam acara Jambore Band di Istora Senayan November 1970.

Yon bersama Koes Plus tampil bersama band Panbers dan beberapa band sohor lainnya seperti The Candies, band Bhajangkara,dan The Rhadows.

Saat itu lagu-lagu Koes Plus mulai dipengaruhi warna sweet sound ala Bee Gees dan The Cats. Yon Koeswoyo sendiri bahkan tiba-tiba berupaya menghasilkan vibra seperti halnya Barry Gibb dari Bee Gees.

Sejak itu popularitas Koes Plus seolah tak terbendung, menggelegak, dan merajai industri musil Indonesia. Terlebih setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin Eugene Timothy.

Koes Plus akhirnya menjadi mesin hits yang terus dipacu tiada henti oleh Remaco.

Dalam catatan pada tahun 1974 Koes Plus merilis sekitar 24 album yang berarti setiap sebulan sekali Koes Plus merilis 2 album.

Lagu-lagu mereka hits di tangga lagu Indonesia, dinyanyikan semua umur, seperti “Bujangan”, “Muda-Mudi”, “Kembali ke Jakarta”, dan lainnya. Bahkan group ini berhasil merilis lebih dari 100 album berbagai jenis aliran musik seperti Pop, Dangdut, Melayu, Keroncong, Jawa, Folksong, Rock, Bosanova, Qasidah, Rohani Natal, Pop Anak-anak, dsb.

Lagu-lagu mereka banyak yang menjadi hits yang melegenda sepanjang masa hingga saat ini.

Mereka juga menjadi bintang iklan beberapa produk: minuman ringan F&N, mobil Toyota Kijang, sampul buku tulis.

Dalam Koes Plus, suara Yon memang dominan meski Yok, Tony, dan bahkan Murry juga tampil sebagai penyanyi.

Vokal Yon mendominasi pada sebagian besar lagu kondang Koes Plus seperti Kembali Ke Jakarta, Kisah Sedih di Hari Minggu, Diana, Hidup Yang Sepi.

Pendidikan terakhir yang sempat ditempuh oleh Yon adalah Universitas Res Publica (sekarang Universitas Trisakti) Jakarta, jurusan Arsitektur pada tahun 1965. Namun tidak selesai, meski sudah tingkat terakhir : Tingkat persiapan.

Di antarasaudaranya, Yon memang termasuk yang telat menikah. Hal itu pernah ia tuangkan dalam lagu ciptaannya berjudul “Hidup Yang Sepi”.

Lagu yang lahir ketika Yon benar-benar sepi sebagai pria lajang tanpa kekasih.

Bahkan ia pernah menyanyikan lagu itu sampai matanya berlinang.

Pada masa remaja Yon mengaku sempat merasakan cinta platonik yang dahsyat pada seorang gadis Orang Indo Belanda yang cantik.

Gadis itu bahkan hampir menggoyahkan imannya. Namun cinta itu tak berkelanjutan.

Dalam pengakuannya kepada Kick Andy show di stasiun televisi MetroTV pada tahun 2008, terkuak bahwa cinta sejatinya dahulu pernah hinggap pada pemain drum band wanita Dara Puspita yang bernama Susy Nander.

Sayang ketika cinta sedang menyala-nyala, Dara Puspita harus melanglang ke manca negara.

Cinta mereka akhirnya kandas karena harus berjarak.

Kisah cinta Yon dengan personel Dara Puspita diabadikan oleh Tony Koeswoyo dalam judul sebuah lagu mereka

“Andaikan Kau Datang” yang dilantunkan Yon.

Yon menikah dua kali. Pertama ia menikah dengan Damiana Susi, seorang wanita asal Yogyakarta.

Dari pernikahan ini ia memperoleh 2 orang anak yakni Ulung Gariyas (Gerry) Koeswoyo dan Otmar Veda (David Koeswoyo).

David mengikuti jejaknya sebagai penyanyi dengan menjadi vokalis Kelompok Band Junior (Band).

Namun pernikahan ini berujung perceraian, karena Susy meninggalkannya di saat Yon sedang terpuruk.

Saat itu popularitas Koes Plus menurun pasca kematian Tonny Koeswoyo, kehidupan keluarga Yon semakin sulit.

Untuk menghidupi keluarganya, Yon mencoba hidup dengan usaha jual-beli mobil dan penghasilan dari menyewakan rumahnya.

Yon kemudian menikah lagi pada tahun 1993 dengan seorang wanita yang bernama Bonita Angelia.

Pada pertengahan 1990-an itu hidupnya masih terbilang pas-pasan.

Bahkan ketika istrinya melahirkan, Yon tidak mempunyai uang sama sekali.

“Untuk membayar rumah sakit bersalin sebesar satu setengah juta rupiah ia harus meminjam uang,” cerita Yon dalam bukunya.

Pernikahan kedua ini Yon memperoleh 2 orang anak yang bernama Bela Aron Koeswoyo dan Kenas Koeswoyo.

Bahkan kini sang istri yang menggunakan hijab inilah yang menjadi managernya dalam setiap kegiatan bermusiknya bersama Koes Plus.

Sebagaimana saudara-saudaranya yang lain, Yon pun kerap menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membantu perekonomian keluarga abang tertuanya Jon yang banyak berjasa pada permulaan berkecimpungnya mereka dalam dunia musik.

Pada usia tua, Yon mulai banyak mengisi hari-harinya dengan berkebun dan melukis.

Ia mulai intensif melukis sejak 2001 meski tidak ditujukan untuk komersil.

Selain melukis, ia juga masih aktif mencipta lagu dan menyiapkan album baru Koes Plus formasi terakhir yang terus diusungnya hingga saat ini.

Selamat jalan legenda, Semoga segala amal diterima disisi NYA.

Share This: