Dari SWAT Sampai NAVY SEALS. Briptu Rachel Satu Satunya Polwan yang Ikut Serbu Napi Teroris di Mako Brimob

Mako Brimob baru-baru ini dirundung kegaduhan akibat insiden kerusuhan antar tahanan terorisme dengan para personel polisi yang ada di penjara, tepatnya pada Selasa (08/05/18) malam lalu, yang berakhir pada Kamis (10/05/18) subuh.

Dari insiden tersebut, sederet korban berjatuhan, terutama personel Brimob yang sebelumnya sempat disandera oleh para tahanan, beberapa di antaranya akhirnya tewas. Sisanya mengalami luka yang cukup parah.

Para anggota kepolisian pun berusaha keras untuk menghentikan aksi mereka. Mereka terus melakukan penyerbuan agar dapat melepaskan rekan mereka yang tersandera oleh para tahanan. Di antara anggota tim penyelamatan tersebut, ada satu sosok yang menarik perhatian.

Ia adalah polisi wanita cantik Briptu Christeel Racheltania Philip. Gadis manis tersebut ikut dalam penyerbuan di Mako Brimob dan menjadi satu-satunya perempuan yang ada di tim khusus penyerbuan tersebut beberapa waktu lalu

Dilatih di Amerika Serikat

Kisah Polwan Dilatih Navy SEALs di Negeri Paman Sam Siapa bilang kesempatan pendidikan dengan program pelatihan khusus di negeri orang, hingga dilatih satuan elite negeri Paman Sam (Amerika Serikat), hanya bisa diikuti para polisi pria yang berprestasi? Briptu Christeel Racheltania Philip, membuktikan ketiadaan diskriminasi dan di mana seorang #PolisiWanita (Polwan) juga patut diperhitungkan. Polwan cantik berusia 24 tahun ini bahkan jadi satu di antara tiga srikandi “Korps Bhayangkara” dari Sat-1 Gegana Detasemen Antiteror Brimob yang punya pengalaman berharga dilatih pasukan elite Amerika tahun lalu. “Tidak ada diskriminasi di kesatuan, justru kami (Polwan) sangat diperhitungkan. Karena apa yang dilakukan polisi pria, kami pun bisa. Contohnya dalam hal menembak dan bisa ikut tim khusus,” tutur Christeel bercerita kepada Okezone. 2014 silam selama 1,5 bulan, Christeel bersama kontingen Indonesia bahkan mampu mencetak sejumlah penilaian terbaik, di antara peserta dari negara lain dalam program pelatihan Crisis Response Team (CRT) di Washingtong DC. “Pengalaman sekolah ke Amerika jadi pengalaman yang enggak bisa terlupakan. Kita bertiga (Polwan) menggeser nama polisi pria pada saat itu. Kebetulan kontingen Indonesia juga satu-satunya yang mengikutkan Polwan. Dari 28 (polisi) yang ikut, kita tiga perempuan ikut ‘nyelip’ di kontingen,” tambah Polwan berdarah Manado-Tionghoa tersebut. “Kita di sana dilatih tidak hanya sama polisi AS saja, tapi juga tim khusus beberapa angkatan Amerika, seperti US Army, Navy SEALs dan SWAT Team. Latihannya gabung dengan beberapa negara, tapi hanya Indonesia yang ada (polisi) wanitanya. Kontingen kita jadi yang terbaik di sana,” imbuh Christeel. Polwan yang punya hobi olahgara ekstrem Grasstrack dan terjun payung itu juga berkisah, bahwa dia dan dua Polwan dari Korps Brimob lainnya, bisa ikut pelatihan itu benar-benar berdasarkan seleksi dan penilaian yang ketat. “Kita bisa diikutkan karena punya kemampuan menembak sesuai kriteria yang telah ditentukan. Juga dari penilaian fisik dan mental. Kriteria lainnya sudah berdinas empat tahun serta punya pengalaman dinas lainnya,” tambah dara kelahiran 16 Desember 1991 itu.

A post shared by polisi_indonesia (@polisi_indonesia) on


Apa yang membuat Briptu Rachel spesial sebenarnya dari pencapaiannya sebagai salah satu polisi wanita yang dikirim untuk menjalani latihan bersama dengan angkatan militer di Amerika Serikat, seperti S.W.A.T hingga Navy Seals.

Pada 2014 lalu, Briptu Rachel bersama kontingen Indonesia mampu mencetak sejumlah penilaian terbaik, di antara peserta dari negara lain dalam program pelatihan Crisis Response Team (CRT) di Washington DC.

Gemar Olahraga Ekstrim

Briptu Rachel yang merupakan anggota Satuan 1 Gegana yang dibawahi oleh Korps Brimob Polri. Ia banyak menjalankan tugas baik di dalam maupun luar negeri, seperti misi kemanusiaan hingga penjagaan terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Namun di luar misi yang sering ia jalani, Briptu Rachel sendiri ternyata adalah seorang perempuan yang gemar melakukan olahraga ekstrim. Kedua olahraga tersebut adalah aksi Grasstrack dan juga terjun payung.

Olahraga otomotif Grasstrack sendiri digemari oleh Briptu Rachel sejak dirinya duduk di bangku SMP. Sedangkan untuk terjun payung sendiri baru ia gemari ketika menjadi anggota Gegana dari Detasemen Antiteror.

Apa Itu Grasstrack?

Grasstrack sendiri berbeda dari olahraga motorcross. Terlebih lagi dari segi motor yang mereka gunakan. Meski sama-sama balapan di lintasan offroad, Grasstrack memiliki motor yang dijual di pasaran, dan mesti dimodifikasi untuk bisa ikut berlaga di sana.

Olahraga balap ini menggunakan jumlah lap sebagai acuan untuk mengetahui kapan tanda finish mesti dilakukan. Kalau di motorcross, kelas dibagi berdasarkan kapasitas mesin, grasstrack sendiri dibedakan kelasnya menurut jenis motor.

Briptu Rachel berdarah Manado-Tionghoa.

Wanita 16 Desember 1991 (27 tahun) ini mengaku mendapat dukungan keluarga untuk menjadi Polwan.

Lulus Sepolwan tahun 2009 sebagai bintara dan di tahun itu juga pilih (kesatuan) Gegana dan mendalami keilmuan anti teror.

Jago Terjun Payung

Jebolan Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) 2009 itu mengaku sudah sejak lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) bercita-cita masuk Korps Bhayangkara dan sejak awal.

Anggota Gegana dari Detasemen Antiteror ini juga punya aktivitas ekstrem lainnya yang tak kalah membuatnya keranjingan, yakni terjun payung.

Briptu Christeel sudah mengecap pengalaman terjun payung di berbagai wilayah macam Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, sampai ke Maluku Utara.

Share This: