Kisah Di Balik Penulisan Al-Quran Raja Sumenep Di Museum Keraton

Sebuah kitab suci Al-Quran tulisan tangan Sultan Abdurrahman di Museum Keraton Sumenep, Jawa Timur rupanya menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan. Banyak wisatawan datang ingin melihat langsung tulisan raja yang dikenal menguasai 10 bahasa tersebut.

Konon, proses penyelesaian Al-Quran yang ditulis Raja Sumenep sekitar 200 tahun silam itu, Sultan Abdurrahman, hanya memakan waktu satu hari satu malam. Tak heran, dari beberapa peninggalan raja yang ada, Al-Quran berukuran 30×30 cm itu justru yang paling diminati wisatawan di museum Keraton Sumenep, jalan Dr Soetomo No lima, Sumenep.

Para wisatawan baik umum, pelajar dan santri dari berbagai pesantren banyak yang ingin melihat langsung. Tapi sayang, pengunjung tidak bisa membuka lembaran kitab suci tersebut. Sebab, Al-Quran diletakkan dalam kaca yang hanya bisa dilihat.

Al-Quran tulisan Sultan Abdurrahman adalah salah satu peninggalan terpopuler yang ada di museum. Sejumlah wisatawan baik lokal maupun luar daerah banyak yang tertarik dengan kitab itu, karena dipandang sebagai salah satu peninggalan sejarah yang paling berharga.

Dalam cerita tutur para sesepuh Keraton yang notabene merupakan keturunan Sultan Abdurrahman, disebutkan bahwa hampir tiap malam sang Raja menulis kitab, termasuk Al-Quran 30 juz tersebut. Dan uniknya, beliau tidak menyediakan obor atau penerang yang sifatnya digantung atau ditempatkan pada wadah khusus.

“Setiap malam bergantian para putra Sultan yang menjadi pemegang obor setiap malam hingga fajar menyingsing.  Bisa dibayangkan, para Pangeran bergantian memegang obor semalam suntuk, tidak tidur, dan dilakukan sambil berdiri. Sebuah didikan yang keras, dan yang jelas tidak semua putra raja sebelumnya maupun sesudahnya, baik di Sumenep maupun di luar Sumenep yang mungkin pernah menjalani training kehidupan semacam ini.

“Jadi kehidupan para putra Raja di masa Sultan tidak seperti yang dibayangkan. Mereka dididik untuk benar-benar taat sepenuh hati pada orang tua, dan diajari hidup susah juga. Jadi tak sekadar hidup mewah dan mentang-mentang putra Raja.

Share This: