Setelah Hampir 2 Minggu Akhirnya Seluruh Korban Terperangkap di Gua Thailand diselamatkan

Dua belas anak dan remaja klub bola bersama seorang pelatihnya sudah berhasil diselamatkan dari dalam gua yang dilanda banjir, seperti dikukuhkan Angkatan Laut Thailand.

Operasi yang berbahaya untuk membawa empat orang yang terakhir dari dalam gua, Selasa (10/07), sudah berakhir.

Pernyataan Angkatan Laut Thailand menegaskan semuanya berada dalam keadaan aman.

Sebanyak 19 penyelam masuk ke gua tersebut dalam misi berbahaya untuk menyelamatkan lima orang terakhir yang masih terperangkap banjir.

Kelompok tim sepak bola itu terperangkap di dalam gua pada 23 Juni lalu karena hujan lebat yang menyebabkan banjir di jaringan gua Tham Luang dan sempat tidak ada kabar sama sekali sampai ditemukan oleh para penyelam sembilan hari kemudian.

 


Sebelumnya, delapan remaja yang berhasil dikeluarkan dari dalam gua di Thailand dalam operasi penyelamatan pada Minggu (08/07) dan Senin (09/07) berada dalam kondisi sehat, baik fisik maupun mental.

Mereka langsung dibawa dengan menggunakan helikopter ke sebuah rumah sakit di dekat Chiang Rai begitu muncul di mulut gua

“Kedelapan remaja itu semuanya sehat, tidak demam… Semuanya dalam kondisi mental yang baik,” sebut Jesada Chokedamrongsuk, sekretaris Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand dalam jumpa pers, Selasa (10/7).

Meski demikian, sambungnya, para petugas medis tetap bersikap waspada sembari menunggu hasil tes. Apalagi, dua di antara delapan remaja dicurigai mengalami infeksi paru-paru.

Sejak dikeluarkan dari dalam gua, kedelapan remaja yang dikeluarkan dari gua telah menjalani pemindaian sinar-X dan pemeriksaan darah.

Kesehatan mereka akan terus dipantau di rumah sakit selama sedikitnya tujuh hari.

Tim penyelamat pada hari Senin (09/07) berhasil membawa keluar empat anak dari dalam gua tempat mereka terperangkap bersama pelatih sepak bola mereka dalam dua pekan terakhir.

Sehari sebelumnya, tim SAR berhasil membawa keluar empat anak, sehingga jumlah keseluruhan yang dibawa keluar dari gua adalah delapan anak.

Jumlah anak yang terperangkap di gua sejak Juni lalu adalah 12 orang.

Kompleks gua Tham Luang tempat para remaja itu terperangkap sejak 23 Juni lalu ibarat sistem labirin dengan celah beragam ukuran.

Ketinggian beberapa celah melebihi 10 meter, sedangkan celah lainnya begitu sempit dan direndam air.

Hal ini menimbulkan potensi bahaya bagi regu penyelamat. Dan kematian seorang mantan penyelam Angkatan Laut Thailand, yang merupakan bagian dari tim pemasok suplai tabung udara kepada para remaja, menjadi bukti bahaya tersebut.

Bagaimana mereka akan lolos?
Para penyelam yang dilengkapi peralatan pernapasan khusus bertemu dengan para remaja setelah melewati serangkaian celah sempit terendam air. Remaja-remaja tersebut akan dibawa ke luar lewat jalur yang sama.

Pemerintah Thailand sudah punya skema yang jelas untuk melakoni operasi ini.

Dua penyelam akan mendampingi setiap remaja dan memandu mereka di tengah kegelapan menggunakan tali.

Di celah sempit, para penyelam harus mencopot tabung udara mereka dan menyelinapkan remaja-remaja itu beserta semua tabung.

Setiap remaja diberikan masker wajah—yang pemakaiannya lebih mudah bagi penyelam pemula.

Operasi menyelam dianggap beberapa kalangan sebagai opsi yang amat berbahaya. Namun, sejumlah pakar menyelam Inggris mengatakan prioritasnya adalah mengeluarkan para remaja sebelum hujan menimbulkan banjir dan membawa puing-puing ke dalam lorong-lorong gua.

Martin Grass, ketua Kelompok Menyelam di Gua, menduga para penyelam kemungkinan menginstruksikan ke-12 remaja dan pelatih mereka untuk tidak menahan napas, memakai sepatu katak secara perlahan, dan bernapas dengan rileks.

Keberadaan dua penyelam yang mendampingi setiap remaja, menurut Grass, penting “untuk memastikan mereka tidak panik”.

Setiap remaja juga dipasangi alat tandem ke salah satu penyelam sehingga tidak ada risiko mereka menghilang di air yang keruh.

“Bisa jadi bonus bahwa para remaja itu masih muda. Sebab ketika seseorang masih muda, mereka cenderung merasa jagoan dan melihatnya sebagai sebuah petualangan,” ujar Grass.

Share This: